Jelang Presentasi Nasional, Wali Kota Mataram Konsolidasi dengan PWI NTB

Jelang Presentasi Nasional, Wali Kota Mataram Konsolidasi dengan PWI NTB

Senin, 05 Januari 2026, Januari 05, 2026



Radarbumigora.Com.Mataram— Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana terus mematangkan persiapan menjelang tahap akhir penilaian Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026. Salah satu langkah strategis yang dilakukan yakni menggelar konsolidasi bersama jajaran pengurus PWI NTB dan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram.


Konsolidasi tersebut dilakukan guna menyatukan persepsi atas keterpilihan Wali Kota Mataram sebagai satu-satunya kepala daerah dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang masuk nominasi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.


Mohan menegaskan, dirinya mempersiapkan diri secara maksimal untuk menghadapi presentasi yang dijadwalkan berlangsung di Kantor PWI Pusat, Jakarta, pada 8–9 Januari 2026. Menurutnya, tahapan ini sangat penting mengingat dewan juri yang melakukan penilaian merupakan para pakar budaya berkaliber nasional.


“Karena jurinya adalah kaliber nasional, saya merasa perlu berdiskusi dan berbagi pandangan dengan pengurus PWI NTB agar presentasi nanti bisa lebih matang. Insya Allah, pertemuan ini semakin memantapkan kesiapan saya menghadapi presentasi di Jakarta,” ujar Mohan saat menerima kunjungan silaturahmi pengurus PWI NTB di Ruang Tamu Kantor Wali Kota Mataram, Senin (5/1/2026).


Mohan juga mengungkapkan bahwa seluruh sarana dan prasarana pendukung presentasi telah dipersiapkan. Makalah yang akan dipaparkan di hadapan lima orang dewan juri disusun sesuai dengan tema dan ketentuan yang ditetapkan PWI Pusat.


Sebagai informasi, Pemerintah Kota Mataram sebelumnya telah mengajukan proposal karya budaya Gerbang Sangkareang untuk penilaian Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026. Karya arsitektur tersebut dinilai merepresentasikan identitas serta dinamika budaya Kota Mataram.


Mohan menjelaskan, Gerbang Sangkareang memadukan nilai tradisi masyarakat Sasak dengan konsep arsitektur modern, sekaligus menjadi simbol komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan ruang publik yang berkarakter.


“Gerbang ini mengangkat konsep lumbung kehidupan, ikon agraris masyarakat Sasak yang melambangkan kesejahteraan, ketahanan, dan kebersamaan,” jelasnya.


Menurutnya, motif lumbung yang dikemas secara kontemporer menjadikan Gerbang Sangkareang sebagai penanda ruang sekaligus penanda makna kota. Kehadiran gerbang tersebut turut memperkuat ekosistem kreatif melalui berkembangnya batik, kriya logam, desain publik, identitas visual kota, hingga mendorong dinamika budaya dan ekonomi.


“Proposal yang kami ajukan menunjukkan kesungguhan Pemerintah Kota Mataram dalam memajukan kebudayaan,” tegas Mohan.


Ketua DPD Partai Golkar NTB itu menambahkan, partisipasi dalam Anugerah Kebudayaan PWI 2026 juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Kota Mataram, sekaligus budaya NTB, di tingkat nasional. Bahkan, konsep Gerbang Sangkareang disebut telah menginspirasi daerah lain untuk mengadopsinya.


“Salah satunya Kota Bima. Pak Wali Kota Bima telah berkomunikasi dan meminta izin untuk menerapkan konsep serupa pada pembangunan Alun-alun Kota Bima ke depan,” ungkapnya.


Dalam perjalanannya, Gerbang Sangkareang tidak hanya menjadi simbol kota, tetapi juga berperan sebagai generator kreativitas kolektif dengan melibatkan pengrajin, desainer tekstil, arsitek, UMKM, komunitas kreatif, hingga pelaku industri fesyen.


“Ini adalah usaha bersama. Yang terpenting, kita telah mengenalkan Gerbang Sangkareang ke tingkat nasional,” ujar Mohan.


Sementara itu, Ketua PWI NTB Ahmad Ikliludin menyatakan pihaknya siap memberikan dukungan penuh kepada Wali Kota Mataram dalam mengikuti tahapan akhir Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.


“Kami siap berkolaborasi dan membantu agar Wali Kota Mataram memperoleh hasil terbaik dalam ajang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026,” kata Iklil didampingi Sekretaris PWI NTB Fahrul Mustofa.


Sebelumnya, Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menjelaskan bahwa penghargaan akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Provinsi Banten, 9 Februari 2026.


Menurut Yusuf, sepuluh kepala daerah terpilih melalui penilaian mendalam terhadap proposal dan seluruh kelengkapannya, mulai dari video, Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), peraturan daerah, hingga dokumentasi pendukung lainnya.


“Berkas yang dinilai sangat lengkap, bahkan mencapai puluhan hingga ratusan halaman,” ujarnya.


Adapun sepuluh kepala daerah tersebut terdiri dari tiga wali kota dan tujuh bupati. Untuk kategori wali kota, masing-masing Wahyu Hidayat (Wali Kota Malang), Andi Harun (Wali Kota Samarinda), dan Mohan Roliskana (Wali Kota Mataram).


Presentasi final akan dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama diisi dengan silaturahmi bersama pengurus PWI Pusat dan tokoh pers, pengundian nomor urut, serta sesi foto. Hari kedua dilanjutkan dengan presentasi sesuai nomor urut yang telah ditetapkan.


“Penilaian meliputi penguasaan materi, gaya dan teknik presentasi, serta penggunaan sarana atau peraga pendukung,” pungkas Yusuf. (Red)

TerPopuler