RadarBumigora.Lombok Timur — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lombok Timur (Lotim) mengingatkan seluruh insan pers agar tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik dalam menjalankan tugas peliputan.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya dinamika pemberitaan di tengah arus informasi yang kian cepat dan masif.
Ketua PWI Lotim, H.Muludin menegaskan, wartawan memiliki tanggung jawab besar dalam menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, kecepatan dalam menyampaikan berita tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
“Wartawan harus tetap berpegang pada kode etik. Verifikasi informasi menjadi hal utama sebelum dipublikasikan,” tegasnya, Senin (31/3).
Ia menambahkan, di era digital saat ini, tantangan jurnalis semakin kompleks. Maraknya informasi yang belum tentu kebenarannya menuntut wartawan untuk lebih selektif dan profesional dalam bekerja.
Karena itu, PWI Lotim mengajak seluruh anggota maupun jurnalis di luar organisasi untuk menjaga marwah profesi.
Selain itu, PWI Lotim juga mengingatkan agar wartawan tidak terjebak pada praktik-praktik yang dapat mencederai independensi pers, seperti menerima imbalan yang berpotensi mempengaruhi isi pemberitaan.
“Independensi adalah harga mati. Jangan sampai kepercayaan publik terhadap media menurun akibat ulah segelintir oknum,” imbuhnya.
PWI Lotim berharap, dengan komitmen bersama dalam menjunjung etika jurnalistik, pers di Lombok Timur dapat terus menjadi pilar demokrasi yang sehat serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Di sisi lain, Pemerintah maupun masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar serta mendukung kerja-kerja jurnalistik yang profesional dan bertanggung jawab.
"Kami mengingatkan kepada pemerintah atau pejabat jangan alergi kepada teman-teman wartawan untuk di konfirmasi. Sebab selama ini, pejabat jika dikonfirmasi seolah-olah menghindar. Kalau menghindar patut diduga ada persoalan yang disembunyikan oleh oknum pejabat yang bersangkutan," Tegasnya (Red).
