RadarBumogora.Com.Lombok Timur – Kelangkaan gas elpiji (LPG) bersubsidi 3 kilogram kembali terjadi di sejumlah wilayah di Lombok Timur (Lotim). Kondisi tersebut memicu sorotan berbagai pihak, salah satunya Ketua Pemuda Pancasila Lombok Timur, Ruhman.
Bang Man sapaan akrabnya menilai, persoalan kelangkaan LPG yang terus berulang setiap tahun menandakan adanya masalah serius dalam sistem distribusi di lapangan.
Dampaknya, masyarakat kecil yang paling merasakan beban akibat sulitnya memperoleh gas melon tersebut.
“Ini bukan persoalan baru. Hampir setiap tahun kita mendengar keluhan yang sama dari masyarakat. Artinya, ada yang tidak beres dalam pengawasan maupun distribusi,” tegasnya, Minggu (5/4).
Ia mendesak pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme distribusi LPG bersubsidi.
Menurutnya, kelangkaan ini diduga kuat dipicu oleh praktik penimbunan maupun distribusi yang tidak tepat sasaran, sehingga stok di tingkat pengecer menjadi terbatas.
Selain itu, ia juga meminta aparat penegak hukum turun tangan melakukan pengawasan ketat terhadap peredaran LPG 3 kilogram. Hal ini penting untuk mencegah adanya oknum yang menyalahgunakan distribusi gas bersubsidi tersebut.
“Kami minta ada tindakan tegas. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan. Jika ada oknum yang bermain, harus ditindak sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memastikan ketersediaan stok LPG tetap aman, terutama menjelang momen tertentu yang biasanya diikuti peningkatan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, sejumlah warga di Lombok Timur mengaku kesulitan mendapatkan LPG dalam beberapa hari terakhir. Kalaupun tersedia, harga jualnya melambung jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Kondisi ini diharapkan segera mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah agar tidak terus berlarut-larut dan kembali meresahkan masyarakat.
“Harus ada solusi cepat dan nyata. Jangan sampai kelangkaan ini terus berulang tanpa ada perbaikan sistem,”(Red).
