UNESCO Perpanjang Geopark Rinjani, NTB Tegaskan Jati Diri
RadarBumigora.Com.Mataram—Status UNESCO Global Geopark untuk kawasan Gunung Rinjani kembali diperpanjang. Keputusan ini bukan sekadar kabar baik bagi sektor pariwisata, tetapi juga menjadi penegasan bahwa Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki nilai lebih di mata dunia.
Tidak hanya keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya dan peradaban.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, mengatakan perpanjangan status tersebut menempatkan Rinjani tetap sebagai bagian dari jaringan geopark global yang diakui dunia.
“Perpanjangan ini menunjukkan bahwa Rinjani dinilai mampu menjaga keseimbangan antara konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, di kaki Rinjani, lanskap tidak sekadar panorama. Berbagai tradisi lokal, mulai dari ritual adat, sistem pertanian, hingga kearifan menjaga hutan, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
“Inilah yang dilihat dunia. Rinjani bukan hanya soal alam, tetapi juga peradaban yang hidup di dalamnya,” tambahnya.
Ia menegaskan, capaian tersebut tidak datang secara instan. Proses panjang melalui upaya pelestarian, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat menjadi faktor utama. Dalam hal ini, peran pemerintah daerah, khususnya Dinas Kebudayaan NTB, dinilai strategis dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai tersebut.
Geopark selama ini kerap dipahami sebatas kekayaan geologi. Padahal, UNESCO Global Geoparks menetapkan tiga pilar utama, yakni konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat. Ketiganya, menurut Ihwan, tidak akan berjalan tanpa dukungan kebudayaan.
“Kebudayaan adalah roh dari geopark. Tanpa itu, geopark hanya menjadi kawasan fisik tanpa makna,” tegasnya.
Di balik jalur pendakian Rinjani, tersimpan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Desa-desa penyangga kawasan juga memiliki tradisi yang terus dijaga. Produk lokal yang dihasilkan masyarakat pun mencerminkan identitas khas NTB yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Perpanjangan status geopark ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kebudayaan bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi pembangunan kawasan. Ke depan, peran kebudayaan diharapkan tidak berhenti pada pelestarian, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
“Masyarakat harus menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton. Atraksi budaya, produk lokal, hingga narasi tradisi harus bisa memberi nilai tambah secara ekonomi,” katanya.
Langkah tersebut sejalan dengan visi pembangunan daerah “NTB Makmur Mendunia”, yang menempatkan kebudayaan sebagai salah satu pilar kesejahteraan.
Sementara itu, UNESCO menetapkan sejumlah syarat ketat dalam evaluasi geopark, di antaranya konsistensi konservasi, penguatan edukasi, pemberdayaan masyarakat, serta manajemen kawasan yang kolaboratif. Hal ini menjadi agenda lintas sektor di NTB.
Perpanjangan status ini juga membuka peluang kerja sama internasional yang lebih luas, termasuk akses dukungan dari lembaga global seperti World Bank dan mitra pembangunan lainnya.
Meski demikian, tantangan ke depan dinilai tidak ringan. Pengakuan dunia harus diikuti dengan komitmen kuat untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kawasan.
“Pengakuan ini adalah awal. Tugas kita memastikan Rinjani tetap lestari dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tutup Ihwan.
Di lereng Rinjani, dunia tidak hanya melihat gunung. Lebih dari itu, dunia melihat bagaimana manusia dan alam hidup berdampingan dalam harmoni. Dari sanalah NTB terus menegaskan jati dirinya di panggung global. (Red)
