Meski Minim Anggaran, NTB Kirim 26 Peserta ke Pesparawi Nasional

Daftar Isi

 


RadarBumigora.Com.Mataram – Keterbatasan anggaran tidak menyurutkan semangat kontingen Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk tampil di ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional yang akan digelar di Manokwari, Papua Barat.

Sebanyak 26 peserta terbaik NTB dipastikan berangkat mewakili daerah pada enam kategori lomba.

Kontingen NTB tahun ini terdiri dari 26 peserta, didampingi pelatih dan official. Bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) NTB beserta istri, total sebanyak 28 orang akan membawa nama NTB pada ajang paduan suara gerejawi terbesar di Indonesia tersebut.

Pembimbing Masyarakat Kristen Kanwil Kemenag NTB, Johnson Parulian, mengatakan NTB akan mengikuti enam kategori lomba, yakni Solo Anak Usia 7-10 Tahun, Solo Anak Usia 11-15 Tahun, Solo Remaja Puteri, Solo Remaja Putera, Vocal Group, dan Musik Pop Gerejawi.

“Puji Tuhan, NTB ikut di enam kategori. Ini kategori yang membutuhkan kemampuan vokal yang baik sekaligus penghayatan iman yang kuat,” ujar Johnson Parulian, Kamis (29/5/2026).

Meski persiapan berjalan baik, perjalanan menuju Pesparawi Nasional tidak sepenuhnya mulus. Keterbatasan anggaran membuat rencana pelaksanaan Training Centre (TC) terpusat yang sebelumnya dirancang tidak dapat direalisasikan.

Namun kondisi tersebut justru melahirkan pola pembinaan yang berbeda. Para peserta melakukan tur pelayanan ke sejumlah gereja di NTB sebagai bagian dari pemantapan sekaligus penggalangan dukungan.

“Seharusnya ada Training Centre terpusat. Tapi karena keterbatasan dana, anak-anak kami keliling ke gereja-gereja di NTB. Mereka bernyanyi untuk melayani sekaligus memperkuat persiapan. Dari situ jemaat juga tergerak memberikan dukungan,” katanya.

Menurut Johnson, kegiatan pelayanan tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan vokal peserta, tetapi juga membangun mental, kekompakan, dan kesiapan spiritual menjelang perlombaan.

Setiap pekan, para peserta mengisi ibadah di berbagai gereja di Pulau Lombok maupun Sumbawa. Dukungan berupa doa, motivasi, hingga bantuan dana terus mengalir dari jemaat yang ditemui selama perjalanan pelayanan.

“Anak-anak tidak merasa terbebani. Mereka justru senang karena bisa melayani terlebih dahulu sebelum berlomba. Ini yang membuat kami yakin mereka siap, bukan hanya secara teknik tetapi juga secara rohani,” tambahnya.

Johnson menjelaskan seluruh peserta yang tergabung dalam kontingen NTB merupakan hasil seleksi tingkat daerah. Mereka berasal dari berbagai denominasi gereja yang kemudian dipersatukan dalam satu tim untuk membawa nama NTB di tingkat nasional.

Di balik persiapan tersebut, tersimpan berbagai kisah perjuangan para peserta. Sebagian harus membagi waktu antara latihan dengan membantu orang tua bekerja. Ada pula yang menempuh perjalanan jauh demi mengikuti latihan rutin.

“Tiap anak punya cerita. Ada yang latihan sambil membantu orang tua di ladang, ada yang harus naik turun angkutan umum untuk latihan. Tetapi mereka memiliki semangat yang sama, yaitu cinta Tuhan dan ingin mengharumkan nama NTB,” ungkap salah seorang pelatih.

Meski tanpa fasilitas pemusatan latihan yang memadai, pihak panitia optimistis kontingen NTB mampu bersaing. Jadwal latihan rutin, pembinaan karakter, hingga penguatan spiritual terus dilakukan menjelang keberangkatan.

“Tadi malam saya melihat gladi terakhir mereka. Secara keseluruhan persiapan sudah mantap dan mereka siap berlaga. Tinggal kita kawal dengan doa,” tegas Johnson.

Ia berharap seluruh umat Kristiani di NTB terus memberikan dukungan dan doa bagi para peserta yang akan membawa nama daerah di ajang nasional tersebut.

“Ini bukan sekadar lomba menyanyi. Ini pelayanan dan misi. Ketika mereka naik ke atas panggung, mereka membawa nama Tuhan sekaligus nama NTB,” ujarnya.

Sementara itu, dukungan terhadap kontingen NTB terus berdatangan. Sejumlah tokoh gereja bahkan menyebut rangkaian pelayanan yang dilakukan peserta sebagai “Pesparawi sebelum Pesparawi” karena mampu mempererat kebersamaan umat sekaligus memperkuat semangat pelayanan.

“Kami bangga dengan mereka. Tidak mengeluh karena keterbatasan dana, tetapi justru turun langsung melayani. Itu menunjukkan mental juara,” kata salah seorang gembala sidang di Kota Mataram.

Sebagai informasi, Pesparawi Nasional merupakan ajang paduan suara gerejawi terbesar di Indonesia yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali.

Selain menjadi wadah pengembangan seni dan prestasi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat moderasi beragama, persatuan, dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. (Red).