Ponpes Lentera Hati Dorong Reformasi Tata Kelola Pesantren Ramah Anak
RadarBumigora.com.Lobar – Pondok Pesantren (Ponpes) Lentera Hati Lombok Barat memberikan dukungan penuh terhadap wacana pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Terpadu untuk mencegah dan menangani kekerasan di lingkungan pesantren.
Menurut Pimpinan Ponpes Lentera Hati, Dr. Muazar Habibi, keberadaan satgas ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat perlindungan santri sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari praktik perundungan.
“Pembentukan Satgas Terpadu sangat dibutuhkan seluruh pesantren. Selain menjadi instrumen pengawasan, satgas juga akan menjadi garda terdepan dalam pencegahan tindakan negatif di pesantren,” ujar Muazar, yang akrab disapa Abah.
Abah menekankan perlunya reformasi sistemik tata kelola pesantren ramah anak di Provinsi NTB. Ia menyebut, masukan langsung kepada Gubernur NTB lebih efektif dibandingkan melalui Kanwil Kemenag NTB.
“Melalui tulisan dan media, saya sampaikan bahwa selama ini tata kelola pesantren di NTB kurang mengalami perbaikan. Reformasi ini penting agar masalah yang sama tidak terus berulang,” tuturnya.
Ia menambahkan, satgas bukan hanya untuk pengawasan, tapi juga bagian dari komitmen pesantren menjaga kepercayaan orang tua yang menitipkan anaknya di pondok.
“Orang tua mempercayakan anaknya kepada pesantren. Kami memiliki tanggung jawab menjaga keamanan, kenyamanan, dan perkembangan karakter santri. Satgas Terpadu menjadi bagian penting dari upaya tersebut,” jelasnya.
Ponpes Lentera Hati telah menerapkan sistem penanganan internal melalui prosedur operasional standar (SOP) yang melibatkan pimpinan pondok, kepala kepengasuhan, dan bagian kesiswaan. Setiap persoalan diselesaikan melalui musyawarah terbuka, dengan keterlibatan orang tua melalui video call.
“Jika terjadi persoalan antar santri, kedua belah pihak kami panggil, orang tua ikut menyaksikan melalui video call, dan seluruh pihak terkait hadir. Proses ini memastikan penyelesaian berjalan objektif dan adil,” ujarnya.
Dalam proses pembinaan, pesantren lebih menekankan edukasi dan penguatan karakter daripada hukuman fisik. Sanksi diarahkan pada kegiatan positif, seperti menambah hafalan Al-Qur’an, membaca Surat Yasin, atau menjaga kebersihan lingkungan.
“Pembinaan karakter menjadi prioritas agar santri memahami kesalahan dan tidak mengulanginya. Kami tidak menerapkan hukuman fisik,” tegasnya.
Meski demikian, Abah mengakui tantangan terbesar adalah membangun kesadaran santri agar tidak melakukan bullying.
“Anak-anak pada usia labil. Setelah diberi pemahaman, perilaku negatif terkadang muncul lagi. Oleh karena itu, pembinaan karakter harus berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, Ponpes Lentera Hati rutin mengadakan sosialisasi dan pembinaan setiap hari, termasuk setelah salat Ashar berjamaah. Selain itu, organisasi santri, Organisasi Santri Lentera Hati (Orsila), diberi peran strategis untuk membantu pengawasan, pembinaan, dan mengarahkan santri menjauhi tindakan perundungan.
“Orsila menjadi garda terdepan dalam memberikan contoh dan mengingatkan teman-temannya agar tidak melakukan bullying atau tindakan negatif lain. Kami memberikan tanggung jawab besar kepada mereka dalam kehidupan sehari-hari di pesantren,”(Red).
