Abdul Hadi Apresiasi Program BMKG, Nelayan NTB Didorong Manfaatkan Informasi Cuaca Maritim
RadarBumigora.Com.Mataram – Anggota DPR RI Davil II NTB Fraksi PKS, H. Abdul Hadi, S.E., M.M., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SCLN) Tahun 2026 yang digelar oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di kawasan Ujung Landasan, Kabupaten Lombok Barat, Minggu (5/7/2026).
Kegiatan edukasi tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri dari nelayan, petani, serta penyuluh perikanan dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Program ini menjadi bagian dari penguatan literasi cuaca maritim bagi masyarakat pesisir yang dinilai rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Abdul Hadi menegaskan, SCLN merupakan program berkelanjutan BMKG yang telah berjalan selama tiga tahun di NTB sejak pertama kali dilaksanakan pada 2024. Program ini juga merupakan bentuk sinergi antara BMKG dengan mitra kerja di Komisi V DPR RI dalam upaya meningkatkan keselamatan masyarakat, khususnya nelayan.
“Ini merupakan kegiatan berkesinambungan yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2024. Tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga. Sekolah Lapang Cuaca Nelayan adalah program BMKG yang juga menjadi mitra kami di Komisi V DPR RI,” ujar Anggota Komisi V DPR RI Abdul Hadi
Menurutnya, kegiatan tersebut sangat penting untuk meningkatkan pemahaman nelayan terhadap informasi cuaca maritim, sehingga mereka dapat menentukan waktu yang aman untuk melaut serta mengantisipasi potensi cuaca ekstrem di perairan.
Selain itu, program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat mitigasi bencana di sektor kelautan dan perikanan, mengingat NTB termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.
“Yang paling penting adalah bagaimana nelayan bisa memanfaatkan informasi cuaca sebelum berangkat melaut. Dengan begitu mereka bisa mengatur jadwal aktivitasnya dan terhindar dari musibah maupun bencana di laut,” katanya.
Abdul Hadi juga menyoroti masih adanya kasus kecelakaan laut yang disebabkan minimnya akses dan pemahaman informasi cuaca. Salah satunya peristiwa yang terjadi tahun lalu, ketika seorang nelayan asal Mapak, Kota Mataram, hanyut hingga mendekati perairan perbatasan Australia akibat kapal terseret arus saat cuaca buruk.
Peristiwa tersebut, kata dia, menjadi pelajaran penting bahwa informasi cuaca bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut.
“Kasus seperti itu jangan sampai terulang. Melalui sekolah lapang ini kita berharap nelayan semakin memahami pentingnya membaca informasi cuaca sebelum melaut,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa NTB memiliki kerawanan tinggi terhadap berbagai fenomena cuaca ekstrem seperti angin kencang, gelombang tinggi, hujan ekstrem, hingga perubahan cuaca yang berlangsung cepat.
Karena itu, edukasi dan sosialisasi BMKG dinilai sangat strategis dalam meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir untuk menghadapi dampak perubahan iklim.
“Program BMKG di NTB ini merupakan tindak lanjut peningkatan layanan informasi cuaca maritim. Tujuannya meningkatkan kemampuan nelayan dan penyuluh perikanan dalam mengantisipasi dampak gejala iklim ekstrem melalui pemanfaatan informasi meteorologi maritim yang akurat,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dibekali pemahaman mengenai cara membaca prakiraan cuaca, informasi tinggi gelombang, arah dan kecepatan angin, hingga pemanfaatan berbagai kanal informasi resmi BMKG.
Diharapkan, peningkatan kapasitas ini dapat mengurangi risiko kecelakaan di laut sekaligus meningkatkan produktivitas sektor perikanan di NTB. (Red)
