Mobil Dagangan Ludes Terbakar, Pedagang Rawon dan Soto di Mataram Kini Kehilangan Mata Pencaharian

Daftar Isi

RADARBUMIGORA.Com.– Musibah kebakaran membuat Nurhayati, pedagang nasi rawon dan soto di Kota Mataram, harus kehilangan sarana utama untuk mencari nafkah. Mobil box pickup yang selama ini digunakan untuk berjualan ludes dilalap api. Sebagian rumahnya juga ikut rusak akibat kebakaran tersebut.

Kini, perempuan yang tinggal di Jalan Mahoni Gang Kopi 3 Nomor 6, Karang Kelok Baru, Kota Mataram, itu hanya bisa berharap mendapat perhatian dan bantuan agar dapat kembali berjualan seperti sediakala.

Peristiwa nahas tersebut terjadi pada Minggu (26/7) sekitar pukul 04.00 Wita. Saat itu, Nurhayati tengah bersiap memulai aktivitas berjualan nasi rawon dan soto seperti biasanya.

Ia menghangatkan rawon dan soto menggunakan kompor yang berada di dalam mobil box pickup yang diparkir di garasi rumah. Sementara itu, Nurhayati beberapa kali masuk ke dapur untuk menyiapkan bahan dagangan lainnya. Namun, saat kembali, ia mendapati api tiba-tiba membesar.

"Seperti biasa saya menghangatkan rawon dan soto sebelum berjualan. Tapi beberapa saat ditinggal ke dalam, ternyata api membesar. Padahal tidak ada bau gas bocor," ujar Nurhayati, Senin (27/7).

Api yang membesar membuat suasana panik. Posisi mobil yang berada di dalam garasi dengan kondisi gerbang rumah masih tertutup juga membuat upaya penyelamatan menjadi lebih sulit.

Warga dan para tetangga yang mengetahui kejadian tersebut langsung berdatangan. Mereka berusaha membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya sembari menunggu kedatangan petugas pemadam kebakaran.

Menurut Nurhayati, petugas pemadam kebakaran tiba sekitar pukul 05.00 Wita atau hampir satu jam setelah api mulai membesar.

Akibat kebakaran itu, mobil box pickup beserta seluruh peralatan dagang miliknya hangus terbakar. Kobaran api juga merusak sebagian rumah, terutama bagian atap teras dan ruang tengah.

Bagi Nurhayati, kehilangan tersebut bukan sekadar kerugian materi. Mobil box pickup itu menjadi sarana utama untuk menjalankan usaha nasi rawon dan soto yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarganya. Setiap hari, ia berjualan di kawasan Cakranegara.

Kini, aktivitas berjualan tersebut terpaksa berhenti. Tanpa kendaraan dan peralatan dagang, Nurhayati tidak lagi memiliki sarana untuk menjalankan usahanya.

Hingga Senin (27/7), bantuan yang diterimanya baru berupa beras dan terpal dari pihak kelurahan. Rekan-rekan sesama pelaku UMKM juga turut bergotong royong membantu menyediakan terpal untuk menutup bagian atap rumah yang rusak akibat kebakaran.

"Kami berharap ada perhatian pemerintah, setidaknya sampai kami bisa kembali beraktivitas dan berdagang seperti biasa. Sebab saat ini kami tidak bisa beraktivitas lagi, padahal ini satu-satunya mata pencaharian kami," tuturnya.

Di tengah musibah yang dialaminya, Nurhayati mengaku bersyukur karena masih mendapat perhatian dari sejumlah pihak. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada jajaran Asosiasi Pedagang Asongan (APA) NTB yang bergerak cepat memberikan bantuan.

Sementara itu, Ketua APA NTB Komarudin Komeng mengatakan, musibah yang dialami Nurhayati menjadi duka bagi keluarga besar pedagang asongan di NTB.

"Kami merasa prihatin dengan musibah ini dan kami juga menggalang donasi sesama anggota APA NTB untuk meringankan beban Bu Nurhayati," katanya.

Komeng menjelaskan, APA NTB telah menyalurkan bantuan awal berupa terpal dan sejumlah kebutuhan lainnya. Pihaknya juga akan berupaya mendorong agar Nurhayati mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi NTB.

"Harapan kami, Bu Nurhayati bisa segera bangkit dan kembali berdagang. Ini bukan hanya persoalan kehilangan harta benda, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan. Karena itu, kami mengajak semua pihak yang memiliki kepedulian untuk bersama-sama membantu meringankan bebannya,"(Red).