Sari Yuliati: Jangan Ada Santri Putus Sekolah karena Biaya

Daftar Isi

RADARBUMIGORA.Com – Wakil Ketua DPR RI Hj. Sari Yuliati, MT menegaskan komitmennya untuk memastikan tidak ada santri yang putus sekolah hanya karena persoalan biaya. Komitmen tersebut disampaikannya saat menghadiri Wisuda Takhasus Santri Pondok Pesantren NU Abhariyah, Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Selasa (4/8).

Dalam kesempatan itu, Sari Yuliati tidak hanya memberikan motivasi kepada para wisudawan dan wisudawati, tetapi juga menyerahkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) bagi santri, bantuan pembangunan pondok pesantren sebesar Rp100 juta, serta bantuan program sanitasi untuk mendukung peningkatan sarana dan prasarana Ponpes NU Abhariyah.

Di hadapan para santri, pengasuh pondok, wali santri, dan tamu undangan, Sari menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengabdikan diri kepada masyarakat.

"Wisuda hari ini bukanlah wisuda terakhir dari perjalanan menuntut ilmu, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang dalam mengembangkan pengetahuan dan mengabdi kepada masyarakat," ujar Sari Yuliati.

Politisi Partai Golkar itu juga membagikan pengalaman pribadinya yang hingga kini masih aktif menempuh pendidikan sebagai kandidat Doktor Hukum di Universitas Padjadjaran. Menurutnya, semangat belajar tidak boleh berhenti meski usia terus bertambah.

"Di usia saya yang hampir setengah abad, saya tetap semangat menuntut ilmu. Teruslah banyak membaca, mencari ilmu, memperluas wawasan, serta meningkatkan kualitas keimanan dan akhlak," pesannya.

Sari mengaku memiliki kedekatan emosional dengan keluarga besar Ponpes NU Abhariyah. Setiap berkunjung ke pesantren tersebut, ia mengaku selalu merasakan suasana yang nyaman dan penuh kekeluargaan.

"Setiap saya ke Abhariyah, saya merasa seperti pulang ke rumah, bertemu umi dan keluarga besar Abhariyah," ungkapnya.

Menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat, Sari juga mengingatkan para santri agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, generasi santri harus mampu menjadi teladan sekaligus agen perubahan di tengah masyarakat.

"Saya berharap para santri dapat menjadi generasi yang unggul, beradaptasi dengan teknologi, menjadi teladan di tengah masyarakat, serta menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi agama, nusa, bangsa, dan keluarga," tegasnya.

Ia menegaskan, perhatian terhadap dunia pendidikan pesantren akan terus diperjuangkan. Salah satunya melalui penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) dan Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi para santri yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

"Kami tidak ingin ada santri yang berhenti sekolah atau berhenti mondok karena tidak ada biaya. Karena itu kami terus mengupayakan program PIP dan KIP Kuliah untuk para santri," katanya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes NU Abhariyah, Ustadz Imam Kafali, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Sari Yuliati terhadap dunia pesantren. Menurutnya, hubungan antara Ponpes NU Abhariyah dan Sari Yuliati telah terjalin erat layaknya keluarga.

"Saya dan Ibu Sari ini sudah seperti saudara, sehingga Ibu Sari adalah bagian dari keluarga besar Ponpes NU Abhariyah," ujarnya.

Imam Kafali mengungkapkan, perhatian Sari terhadap pesantren telah berlangsung sejak 2019 melalui penyaluran Program Indonesia Pintar bagi seluruh santri yang memenuhi syarat.

"Sejak tahun 2019, Ibu Sari sudah menyalurkan bantuan untuk Abhariyah," katanya.

Menurutnya, program tersebut sangat membantu santri yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu sehingga dapat terus melanjutkan pendidikan tanpa terkendala biaya.

"Sistem yang kami terapkan, ketika PIP dicairkan untuk jenjang SMP, dana langsung diterima orang tua. Kami sarankan untuk menyelesaikan kewajiban administrasi pesantren. Alhamdulillah, santri dan wali santri di Ponpes Abhariyah sangat taat," jelasnya.

Ia menambahkan, dukungan Buk Sari Yuliati juga dirasakan oleh santri yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui Program KIP Kuliah. Bantuan tersebut dicairkan setiap semester dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menunjang kebutuhan studi mahasiswa.

"Kami di pesantren menjamin seluruh bantuan tersebut dimanfaatkan sepenuhnya untuk mendukung kelancaran studi para mahasiswa," terangnya.

Selain bantuan pendidikan, Imam Kafali menyebut Sari juga memberikan dukungan berupa kendaraan operasional yang dimanfaatkan untuk kebutuhan sosial dan pelayanan santri, termasuk mengantar santri yang membutuhkan pengobatan.

Ia juga mengapresiasi perhatian Sari terhadap berbagai persoalan pendidikan dan pesantren di NTB, termasuk kepedulian terhadap santri yang menjadi korban kekerasan.

"Seluruh rekam jejak bantuan dan perjuangan yang telah diberikan merupakan bukti nyata kepedulian beliau kepada masyarakat Lombok dan keluarga besar Pondok Pesantren NU Abhariyah," tandasnya.

Pada Wisuda Takhasus tahun ini, sebanyak 16 santri resmi diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan selama tujuh tahun di Pondok Pesantren NU Abhariyah. (Red).