Didukung LPDP, Lapas Selong Kembangkan Azolla dan Sayuran untuk Ketahanan Pangan
RadarBumigora.Com – Upaya membangun kemandirian pangan tidak hanya dilakukan di tengah masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Selong, Kabupaten Lombok Timur, mulai mengembangkan inovasi berbasis ekonomi sirkular melalui budidaya Azolla dan sayuran.
Program ini menjadi bagian dari hilirisasi riset kolaborasi tiga perguruan tinggi yang mendapat pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Pelatihan budidaya Azolla dan sayuran tersebut dilaksanakan pada Senin (12/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas–Sinergi yang melibatkan Universitas Brawijaya, Universitas Mataram, dan Universitas Al-Azhar NTB, dengan Lapas Selong dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat (DISLUTKAN NTB) sebagai mitra.
Program yang dipimpin Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., IPU., ASEAN Eng. tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal. Tidak sekadar menghasilkan tanaman, pengembangan ini juga menjadi langkah awal membangun sistem produksi yang menghubungkan pengelolaan sampah, budidaya tanaman, dan perikanan.
Pelatihan kali ini dilaksanakan oleh dua anggota tim, yakni Panji Deoranto, STP., MP., Ph.D., dari Universitas Brawijaya dan Ir. Hj. Syuhriyatin, M.Si., dari Universitas Al-Azhar NTB.
Melalui program tersebut, Lapas Selong diproyeksikan menjadi salah satu ruang penerapan inovasi yang mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan penguatan ketahanan pangan.
Selain mendukung kebutuhan pangan, kegiatan ini juga membuka peluang pengembangan keterampilan praktis bagi warga binaan.
Salah satu fokus pelatihan adalah pengembangan Azolla, tanaman air yang berpotensi dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku dalam formulasi pakan ikan.
Selama ini, kebutuhan pakan menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan budidaya perikanan. Ketersediaan bahan baku, kualitas nutrisi, dan biaya produksi perlu diperhitungkan agar kegiatan budidaya dapat berjalan secara berkelanjutan.
Karena itu, pemanfaatan sumber daya lokal menjadi salah satu alternatif yang dikembangkan melalui program hilirisasi riset ini.
Azolla diperkenalkan sebagai bahan potensial untuk mendukung diversifikasi bahan baku pelet ikan. Pengembangannya diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem budidaya perikanan yang lebih terintegrasi, dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan lapas.
Meski demikian, pemanfaatan Azolla sebagai bahan pakan tetap membutuhkan pengujian lebih lanjut. Komposisi nutrisi, formulasi campuran, hingga kualitas pelet harus diperhatikan sebelum penggunaannya diterapkan secara lebih luas.
Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya berorientasi pada pengenalan teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun kapasitas dan menjajaki penerapan hasil riset sesuai kebutuhan lapangan.
Selain Azolla, budidaya sayuran menjadi bagian penting dalam pengembangan program tersebut. Jika Azolla diarahkan untuk mendukung pengembangan bahan baku pakan ikan, sayuran difokuskan pada pemanfaatan sumber daya untuk menunjang ketersediaan pangan.
Kegiatan ini memperkenalkan teknik budidaya tanaman dengan memanfaatkan ruang dan sarana yang tersedia di lingkungan pemasyarakatan.
Pengembangan sayuran juga diharapkan dapat menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat secara langsung maupun sebagai sarana pembelajaran.
Bagi warga binaan, keterampilan budidaya tanaman dapat menjadi bekal praktis yang berguna. Mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga pengelolaan hasil panen, seluruh tahapan memberikan pengalaman mengenai produksi pangan dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.
Jika dikembangkan secara konsisten, budidaya sayuran berpotensi mendukung ketersediaan pangan di lingkungan lapas. Namun, keberlanjutannya tetap membutuhkan dukungan sarana, pendampingan teknis, serta pengelolaan hasil panen yang baik.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kegiatan pemasyarakatan juga dapat menjadi ruang pengembangan keterampilan produktif yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya dan keberlanjutan lingkungan.
Pengembangan Azolla dan sayuran bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri. Keduanya merupakan bagian dari rangkaian Program Hilirisasi Riset Prioritas–Sinergi yang sebelumnya telah mencakup pelatihan pengelolaan sampah, pembuatan dan pemanfaatan eco-enzyme, serta mikroorganisme lokal (MOL).
Program tersebut mengusung pendekatan ekonomi sirkular, yakni mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya agar tidak langsung berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah dan dimanfaatkan kembali sesuai kebutuhan.
Dalam skema pengembangan yang direncanakan, pengolahan sampah organik, budidaya tanaman, pengembangan maggot Black Soldier Fly (BSF), dan budidaya ikan diarahkan untuk saling mendukung.
Azolla berpotensi menjadi salah satu komponen bahan baku pakan ikan. Sementara itu, budidaya sayuran diarahkan untuk mendukung ketersediaan pangan, sedangkan pengembangan maggot BSF menjadi salah satu tahapan lanjutan dalam penjajakan sumber bahan pakan alternatif.
Integrasi berbagai komponen tersebut membutuhkan penerapan secara bertahap, pendampingan, serta evaluasi teknis. Hal ini penting agar setiap kegiatan dapat berjalan sesuai peruntukannya dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan sampah dan budidaya tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang terpisah. Keduanya diarahkan menjadi bagian dari sistem produktif yang menghubungkan aspek lingkungan, pangan, dan perikanan.
Program yang didukung pendanaan LPDP ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra lapangan dalam menerapkan hasil penelitian.
Universitas Brawijaya, Universitas Mataram, dan Universitas Al-Azhar NTB berperan dalam pengembangan pengetahuan dan inovasi. Sementara itu, Lapas Selong dan DISLUTKAN NTB menjadi mitra dalam proses penerapan program sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Hilirisasi riset menjadi penting karena hasil penelitian tidak cukup berhenti pada publikasi atau pengembangan konsep akademik.
Pengetahuan dan teknologi perlu diperkenalkan, diuji, serta disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat.
Melalui pelatihan budidaya Azolla dan sayuran, pengembangan riset diarahkan pada penerapan yang lebih nyata. Kendati demikian, keberhasilan program tetap membutuhkan proses pendampingan, evaluasi, dan pengembangan berkelanjutan.
Kolaborasi lintas sektor tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Perguruan tinggi menyediakan dukungan keilmuan, mitra lapangan menjadi bagian dari penerapan, sedangkan pendanaan riset membantu mendorong proses pengembangan inovasi.
Program ini juga sejalan dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Pada SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan (Zero Hunger), program diarahkan untuk mendukung ketersediaan pangan melalui budidaya sayuran dan pengembangan sistem budidaya ikan. SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) tercermin dalam transfer pengetahuan dan penguatan keterampilan praktis.
Sementara itu, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) berkaitan dengan penerapan ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
Adapun SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals) diwujudkan melalui kolaborasi perguruan tinggi, Lapas Selong, dan DISLUTKAN NTB dengan dukungan pendanaan LPDP.
Pada akhirnya, pengembangan Azolla dan sayuran di Lapas Selong bukan semata-mata tentang menanam tanaman. Lebih dari itu, program ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan inovasi riset, keterampilan warga binaan, pengelolaan lingkungan, dan penguatan ketahanan pangan.
Dengan pendampingan serta pengembangan yang berkelanjutan, model ekonomi sirkular ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan pemasyarakatan sekaligus membuka peluang penerapan inovasi serupa di masa mendatang.(Red).

