Berkah MBG, Siswa SMKN 1 Sakra Raup Untung Belasan Juta dari Pasokan Pisang

Berkah MBG, Siswa SMKN 1 Sakra Raup Untung Belasan Juta dari Pasokan Pisang

Selasa, 10 Februari 2026, Februari 10, 2026

 



RadarBumigora.Com.Lomboktimur — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya membawa manfaat dalam pemenuhan gizi pelajar, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi siswa. Berkah tersebut dirasakan langsung oleh salah satu siswa SMKN 1 Sakra, Lombok Timur, Yazid Damin Akbar, yang berhasil meraup keuntungan belasan juta rupiah melalui pemasokan pisang ke dapur MBG.


Keterlibatan siswa dalam pemasokan bahan baku tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap kebutuhan logistik program MBG di Lombok Timur. Melalui praktik kewirausahaan, siswa menyuplai pisang secara rutin sesuai permintaan dapur MBG.


Kepala SMKN 1 Sakra, Ahmad Suhamka, S.P., mengatakan keterlibatan siswa dalam rantai pasok MBG menjadi media pembelajaran berbasis industri yang nyata.


Selain melatih jiwa wirausaha, kegiatan itu juga memberi dampak ekonomi langsung bagi peserta didik.


“Ini menjadi pembelajaran riil bagi siswa kami. Mereka tidak hanya belajar teori bisnis, tetapi juga praktik mulai dari pengadaan, sortir, hingga distribusi. Alhamdulillah hasilnya bisa mencapai belasan juta rupiah,” Ungkapnya, Selasa (10/2/2026).


Ia menambahkan, kehadiran MBG juga membuka peluang bagi jurusan lain. Produksi roti oleh siswi Jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) meningkat setelah menembus dapur MBG.


Sementara itu, Yazid yang merupakan siswa kelas XII Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) memanfaatkan peluang sebagai pemasok pisang, sekaligus mengembangkan olahan sale pisang.


“Ini juga tidak terlepas dari pendidikan keluarga. Orang tua siswa merupakan alumni, ditambah peran bapak/ibu guru yang mengajarkan semangat berusaha,” jelasnya.


Menurut Suhamka, kondisi industri di NTB yang belum sebanyak di Pulau Jawa menuntut lulusan SMK untuk lebih kreatif membuka usaha mandiri.


“Mudah-mudahan ananda kita ke depan bisa merekrut tenaga kerja. Alhamdulillah, dengan adanya MBG peluang usaha semakin banyak,” katanya.


Diketahui, pisang yang dipasok berasal dari kemitraan dengan petani di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Para petani mengantar langsung pisang ke rumah siswa, kemudian disortir sebelum didistribusikan sesuai standar kualitas dan kebutuhan gizi dapur MBG.


Langkah ini dinilai efektif menumbuhkan wirausaha muda di lingkungan sekolah. Dengan capaian keuntungan belasan juta rupiah, SMKN 1 Sakra membuktikan bahwa program pemerintah dapat bersinergi dengan dunia pendidikan dalam menghadirkan manfaat ganda, yakni peningkatan gizi sekaligus pemberdayaan ekonomi siswa.




Di tempat yang sama Ketua Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) SMKN 1 Sakra, Kaharuddin, S.P., menambahkan bahwa konsep pendidikan di SMK memang diarahkan untuk menciptakan lulusan yang mampu membuka lapangan kerja sendiri, bekerja, maupun melanjutkan ke perguruan tinggi.


“Alhamdulillah, ananda kita melihat peluang yang luar biasa. Makanya berkah MBG ini luar biasa,” jelasnya.


Ia mengatakan, selama proses pembelajaran, setiap produk yang dihasilkan siswa dipasarkan sehingga mental usaha sudah terlatih sejak di bangku sekolah.


“Kalau siswa-siswi kita sudah tamat tentunya bisa melihat peluang dengan keterampilan yang dimiliki,” ujarnya.


Menurutnya, banyak lulusan ATPH yang setelah selesai sekolah telah memiliki usaha mandiri.


“Alhamdulillah, sudah banyak ananda kita yang sukses,” tambahnya.


Sementara itu, siswa SMKN 1 Sakra Yazid Damin Akbar mengaku bersyukur atas peluang yang diperoleh melalui program MBG. Selain menambah penghasilan, ia juga mendapat pengalaman bisnis secara langsung.


“Kami jadi belajar menghitung modal, keuntungan, sampai cara menjaga kualitas barang. Tidak menyangka juga bisa dapat keuntungan cukup besar,” ungkapnya.


Ia menjelaskan, modal awal usaha sekitar Rp7 juta. Pisang jenis Pasak Kresek dipasok petani KLU setiap pekan, lalu disortir sebelum dikirim ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sesuai pesanan.


Saat ini, distribusi dilakukan ke empat SPPG, yakni di Labuhan Lombok, Masbagik, Terara, dan Sakra.


“Alhamdulillah, keuntungan dari satu SPPG sekitar Rp2 sampai Rp3 juta. Kalau empat SPPG, bisa mencapai sekitar Rp12 juta per minggu,” ujarnya.


Yazid menambahkan, usaha tersebut baru dirintis sejak Desember 2025 atau berjalan sekitar dua bulan. Ia optimistis usahanya dapat terus berkembang seiring keberlanjutan program MBG. (Red).

TerPopuler