RadarBumigira.Com.Mataram — Aksi heroik porter Gunung Rinjani, Abdul Haris Agam atau yang dikenal dengan Agam Rinjani, saat membantu tim relawan mengevakuasi jasad pendaki asal Brasil, Juliana Marins, usai terjatuh di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB), sempat menuai pujian luas dan viral di media sosial serta berbagai platform media massa.
Gelombang simpati publik, khususnya dari warga Brasil, kemudian berujung pada penggalangan dana melalui platform VOAA.
Donasi tersebut disebut-sebut diperuntukkan bagi Agam Rinjani sekaligus untuk membantu tim relawan yang terlibat langsung dalam proses evakuasi jenazah Juliana Marins.
Namun, donasi yang nilainya mencapai miliaran rupiah itu kini memicu polemik. Tim relawan mengaku tidak pernah menerima bagian dari donasi tersebut, sebagaimana yang sebelumnya disampaikan Agam Rinjani dalam sejumlah podcast publik.
Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani (FWLR), Royal Sembahulun, menyatakan kekecewaannya atas polemik tersebut.
Ia mengaku awalnya bersama warga Sembalun, Lombok Timur, merasa bangga atas kiprah Agam Rinjani yang dinilai membawa nama baik daerah.
Apalagi, kata Royal, dalam beberapa kesempatan podcast, Agam Rinjani menyampaikan bahwa sebagian donasi akan dialokasikan untuk tim penyelamat, kegiatan penghijauan Gunung Rinjani, serta pembelian peralatan bagi porter dan relawan.
“Faktanya tidak seperti itu. Itu yang membuat kami marah. Masyarakat Sembalun yang awalnya mendukung, akhirnya berbalik kecewa,” ujar Royal.
Royal mengungkapkan, berdasarkan informasi yang ia peroleh, donasi warga Brasil yang dihimpun melalui VOAA dan Komunitas Sosial Razoe mencapai sekitar Rp1,5 miliar dan dicairkan tanpa potongan pajak. Dari jumlah tersebut, awalnya donasi yang dialokasikan atas nama Agam Rinjani disebut hanya sebesar Rp500 juta.
“Nilainya bertambah karena ada permintaan agar donasi ditambah dengan alasan untuk dibagikan ke tim, kegiatan penghijauan, dan pembelian peralatan,” kata Royal.
Ia mengaku telah mencocokkan pernyataan tersebut dengan unggahan warga Brasil di platform penggalangan dana.
Menurut Royal, sebagian dana memang telah digunakan untuk membeli peralatan dan satu unit motor trail bekas, namun jika ditaksir nilainya tidak mencapai Rp80 juta.
Sementara itu, hingga kini, tim relawan yang berada di garis depan evakuasi mengaku belum menerima bagian donasi apa pun.
Begitu pula rencana penghijauan Gunung Rinjani yang dinilai hanya sebatas janji.
Royal menilai, pernyataan Agam Rinjani di ruang publik hanya sebatas pencitraan untuk meraih simpati donatur. Ia bahkan menuding Agam telah melakukan pembohongan publik.
“Kami merasa ini tidak bermoral dan tidak beretika. Yang kami suarakan murni hak-hak tim relawan,” tegasnya.
Terpisah Anggota Unit SAR Lombok Timur, Samsul Fadli. Ia mengaku terkejut mengetahui adanya donasi warga Brasil yang dikaitkan dengan evakuasi Juliana Marins.
Menurut Fadli, Agam Rinjani tidak pernah menyampaikan atau mengajak komunikasi terkait donasi tersebut kepada tim relawan. Ia baru mengetahui setelah polemik mencuat ke publik.
“Ketua tim relawan sudah mengeluarkan edaran bahwa tidak ada keterlibatan relawan dalam donasi tersebut. Edaran itu disampaikan melalui media sosial,” jelasnya.
Fadli merupakan salah satu relawan pertama yang turun ke lokasi jatuhnya Juliana Marins dan menjadi petugas awal di titik terakhir pendaki WNA tersebut terlihat.
Ia juga menyoroti kehadiran Agam Rinjani yang baru muncul pada hari keempat pencarian, namun kemudian viral dan menjadi figur publik.
Terpisah, Agam Rinjani membantah tudingan telah meminta donasi kepada platform VOAA. Ia menantang pihak-pihak yang menuduhnya untuk membuktikan klaim tersebut.
“Saya tidak pernah minta donasi. Kalau ada yang bilang saya minta, silakan dibuktikan,” tegas Agam.
Ia mengakui menerima dana donasi sebesar Rp1,3 miliar yang masuk ke rekening pribadinya, namun menurutnya jumlah tersebut sudah dipotong pajak. Agam juga mengklaim awalnya menolak pemberian donasi tersebut, namun pihak VOAA tetap bersikeras memberikan sebagai bentuk apresiasi.
“Saya bilang, kalau ada dananya, rencananya mau saya belikan alat rescue dan motor trail bekas. Kalau ada sisa, saya tanam pohon di Rinjani,” ujarnya.
Agam juga membantah tudingan kerap meminta donasi dalam setiap peristiwa evakuasi. Menurutnya, penggalangan dana hanya pernah dilakukan saat gempa Lombok 2018 untuk pengadaan pipa air.
Ia menilai isu tersebut sengaja digoreng oleh pihak-pihak yang tidak menyukainya. Meski demikian, Agam mengklaim sebagian dana donasi telah disalurkan untuk peralatan pendakian, sarana prasarana rescue, serta kegiatan sosial masyarakat setempat.
“Masuk gunung saja kita potong sapi untuk syukuran. Itu saya biayai sendiri. Tapi tidak semua harus saya posting,”(Red).
